Tak Berkategori

Ghinatera

Assalamu’alaikum!

I’m Ghinatera. Or u can call me Ghina.

Wassalamu’alaikum,

Ask anything about me in the comment (not the private one of course).

Advertisements
Tak Berkategori

TBH

Assalamu’alaikum!

Jadi mungkin bacanya nggak sampai semenit. Soalnya cuman mau kasih tahu aja kalau aku suka bahasa-bahasa puitis kayak di lagunya Guruh Soekarno.

Nggak tahu juga, ya. Lagu zaman dulu itu lebih bagus, menurutku.

Coba, deh, dengerin Kharisma Indonesia, Cinta-Cinta-Cinta Indonesia, Zamrud Khatulistiwa, Esok Kan Masih Ada, Pemuda, Lenggang Puspita, Melati Suci.

Kata-katanya itu, lho! Aransemen (TBH nggak tahu apa arti konkretnya) lagunya itu keren banget.

Itu aja. Wassalamu’alaikum!

Try to be good

Hukum Aksi-Reaksi

Assalamu’alaikum,

It’s gonna be a short part, because i just want to tell u my story:

Once upon a time …

ada seorang anak yang sedang asyik bermain dengan Hp-nya.

Ibunya datang, memintanya untuk sholat. Ia pun segera pergi ke WC. Mengambil wudhu, lalu kembali ke kamar.

Sesampainya di kamar, ia lanjut bermain Hp. Sembari mendekati pintu untuk menutupnya, anak tersebut masih fokus bermain Hp.

Kemudiaaaan ….

Mau tahu? Eh/

Suddenly Hp-nya jatuh, then baterai-nya keluar.

Udah itu aja.

Iya, itu aja.

Serius?

Iya, serius!

Nggak. Masih ada. Anak tersebut segera tersadar, “Mungkin ini peringatan Allah karena nunda sholat melulu dari tadinya.”

Ia pun segera sholat.

Setelah sholat, dituliskannya cerita barusan yang terjadi pada dirinya di blog miliknya(/APAA LIHAT-LIHAT????

Kaliaan … cepat atau lambat apa yang telah kalian lakukan PASTI akan ada balasannya. Baik maupun buruk.

Wassalamu’alaikum.

*basedontruestory/udah dibilangin APA LIHAT-LIHAT?? Heheh

Bout school

Boarding untuk Menghafal

Assalamu’alaikum!

.

.

Kali ini aku akan membagikan pengalaman boarding di sekolah selama yah … kurang lebih empat hari.

Sesuai judul, boarding yang kulakukan untuk menghafal Al-Quran, karena (kan mulai boarding dari hari Selasa sampai Jumat siang, terus nggak pulang-pulang) hari Sabtu kami sudah wisuda tahfidz. Hehe … and i make this blog on Friday night.

Sebelum karantina kami semua diseleksi. Minimal kami harus hafal juz yang sudah ditentukan. Alhamdulillah, sekitar dua puluh satu siswa akhwat lulus untuk ikut karantina esok harinya, sedang (tidak salah) ada sepuluh ikhwan yang lulus karantina.

While teman-teman kami yang lain belajar, kami harus menghafal atau muraja’ah. Guru pembimbingku adalah Bu Irma. Sekarang pun aku masih mengingat pesan Beliau agar kami serius menghafal walau ada empat hari untuk menghafal. Tidak boleh main-main (terus, hehe)!

Oh, ini juga (hampir lupa, Gaes)! Sore pertama setelah sholat Dzuhur, kami semua makan siang/sore: entahlah. Ima (yang cantik) mengambil plastik pembungkus sendok, kemudian mengisinya dengan air lalu diikat menyerupai plastik untuk ikan.

Suddenly it’s reminding me Milea. Wuaaahh … (jangan salfok y) Milea itu nama ikan di kelasku, dan secara resmi dijadikan sebagai anggota keluarga 7 Ummu Kalsum (hidup UM-KAL!!!). Hikss ….

Milea dan Dilan (aku lupa judul filmya or itu judulnya?) . Yap! Ini aku ceritakan walau agak melenceng dari judul.

Ehem!

Di suatu hari yang mendung …, guru Biologiku, Bu Marwah, meminta kami melakukan praktek observasi dampak deterjen terhadap biota air, yaitu ikan.

Ada empat ikan. Ada tiga ikan cupang kecil, dan satu ikan yang kecil juga (hehe) tapi kira-kira tiga kali lebih besar dari ikan tiga tadi.

Dua di antaranya tidak diberi deterjen (satu ikan yang paling besar dan ikan cupang yang paling bagus dari yang lainnya, warnanya hologram biru dengan warna merah di ujung-ujungnya). Sisanya diberi satu sendok deterjen dan dua sendok deterjen.

Wallahua’lam. Untungnya kelompokku lupa membawa ikan. Karena aku takut terkena dosa, guru Ummi-ku (salah satu metode membaca Al-Quran) sekaligus guru PAI-ku mengatakan ia takut juga kalau ‘hal’ yang akan kami lakukan adalah dosa (soalnya aku belajar Ummi di kelas 7 Ibnu Hisyam: di pelajaran Ummi kelas-kelas tercampur. Nah, sebelum Ummi, Moetiah, dkk: anak Ibnu Hisyam, melakukan praktek observasi Biologi, dan innalillah, dua kali aku melihat ikan mereka mati. Pelajaran Biologi-ku baru besoknya).

Pada akhirnya salah satu temanku mengatakan: “Mungkin tak apa. Kita kan melakukan ini untuk belajar.”

Lanjut:

Saat itu baru saja booming film ‘Dilan & Milea’. Karena dua ikan yang diberi deterjen mati semua, tinggal si besar dan si cantik, maka Oi’ (alias Kaori) memberi nama mereka Dilan untuk si besar, dan Milea untuk si cantik (although ada temanku yang bilang kalau si cantik itu jantan dan si besar itu betina, tapi y gak papa kan y :v).

Yang membuatku sedih, esoknya setelah praktek Dilan ditemukan mati di depan lokernya Lutfiyah. Mungkin dia kesempitan di tempatnya. Dilaksanakanlah penguburan Dilan disaksikan Milea secara langsung. Dihadiri semua siswi Um-Kal (soalnya di kelasku semua akhwat).

Selanjutnya kami berharap banyak pada Milea. Kami rawat baik-baik, kami beri makan, kami bersihkan airnya, kami perhatikan dari atas meja, dan menumpahkan secara tidak segaja sebagian air Milea di atas rokku, wkwk. It’s not being an important thing to say, actually.

Tapi!!!! Bayangkan, empat hari setelah praktek, aku meminta Oi’ untuk menuliskan tanggal pertama kalinya Milea dirawat, yaitu 22/3/2018. Bercanda kukatakan, “Kalau Milea mati kita bisa nulis tanggal lahir-matinya.”

Bad. I’m very sad. Esoknya Milea ditemukan telah mati dengan (i don’t want to tell you akhir Milea.Cukup kami saja).

Aargghhh!!! Seorang siswa ikhwan did something to him, Milea. Saat ditanya kenapa Milea bisa mati, dia bilang kalau Milea udah ditemuin mati di atas sandal. I don’t know sandal yang mana yang dia maksud. Soalnya kemarin pas sudah jam 5 sore Milea masih ada di kelas. Dan sandal di lantai dua hanya sandal untuj masuk wc.

Okay, aku bisa terima itu. But, why you make it more bad?

(Huh, jadi curhat, nih)

Selanjutnya

Lanjut bicara karantina:

Hasilnya mirip squishy yang bisa ditekan-tekan dengan tangan atau kalau aku melemparnya dari lantai atas ke bawah untuk melihat daya tahannya.

Begitulah hari-hari berlalu. Setiap selesai makan, kami selalu membuat bungkusan tersebut. Oh, iya! Ada juga si raja pisang (bukan monkey y) yang setiap ada temanku yang tidak memakan pisang dalam makanannya kemudian diberikan kepada si raja pisang, siapa lagi kalau bukan … Niswah!!!!!(????)

Kami menghafal sampai jam sepuluh malam, kemudian tidur. Kadang tidur di Um-Kal, kadang di 8 Ummu Salamah (kelasnya Bu Irma).

Terkadang aku dilanda kantuk berat saat sedang menghafal. Bagaimana cara mengatasinya? Ya, dengan tidur. Aku memang hobi tidur (?). Tapi untuk di saat seperti itu kita tidak boleh memaksakan diri. Istirahatkan otak sebentar, setelah itu otak bisa bekerja maksimal kembali.

Ada juga audio murotal dari Rifdah, ada juga audio murotal dari idk who. Tapi kedua audio tersebut sangat membantu kami untuk menghafal dan lebih fokus.

Tips untuk kalian cepat hafal juga, nih. Jangan lupa sholat tahajjud! Mintalah doa kepada Allah agar senantiasa diberi kemudahan dalam menghafalkan Al-Quran, dilancarkan lisannya untuk membaca, dan lain-lain. Dan jangan lupa pula doakan teman-teman kalian! Enak rasanya, kan, kalau kita bisa menghafal bareng temen?

Bagai mengayuhkan sepeda agar sampai tujuan. Ulang terus doa kalian saat sholat fardhu.

Ini cerita saat kami pergi ke Danau Un-Has:

Agar tidak bosan, kami pergi rekreasi sekaligus menghafal di Danau UnHas. Nah, bagi kalian yang sering lalu-lalang di lampu merah gerbang UnHas, pastinya pernah melihat danau tersebut.

Bukan danau, sih. Tapi dibilang danau. Tau ah. Yang penting di tengahnya ada tiga air mancur, terus ada ikan-ikan kecilnya, dan … oh! Ada jalan lingkaran di tengah danau, jadi kita bisa berjalan di atasnya (of course lah, wkwk).

Di belakang danau ada tulisan: ‘Universitas Hasanuddin’ (Makassar). Di belakang tulisan itu ada jalur jogging yang disambungkan dengan jembatan mini. Terus ada tenpat duduk yang besaaaar banget (bukan bangku. Kayak … tangga yang agak melengkung untuk duduk. Di tengahnya ada jalan untuk ke belakang lagi).

Tempat di belakang tempat duduk adalah, mungkin tempat jongging juga. Tapi jalurnya berpisah-pisah karena terbuat dari kayu yang diberikan tiang dari tanah, jadi jalurnya lebih tinggi dari tanah. Nah, tanah di sela-sela jalur ditanami phon yang sudah besar-besar. Saat kami menghafal di sana ada penebangan pohon-pohon yang sudah (nggak tahu. Tapi tangkainya sudah ditebang duluan).

Suasananya teduuuuh banget.

Terus, nih, y! Aku kan sempat menghafal di ujung jalan melingkar di tengah danau, nih (maksudnya aku duduk di jalan tapi dekat dengan daratan), terus teman-temanku yang lain pada ngumpul di sisi lain jalan melingkar yang ada di daratan. Mereka lagi dengerin cerita seorang bapak yang kebetulan bekerja di sana. Nggak tahu apa, sih. Soalnya saat itu aku lagi mau fokus-fokusnya menghafal (setelah memperhatikan jalur semut cuz lagi boring, bermain-main dengan seekor kucing yang punya anak dan daun putri malu di dekatnya yang banyak, banyak sekaleeh, hehe).

Di saat-saat terakhir bapak itu bercerita, aku mendekatinya karena ingin mendengar. Ternyata beliau bercerita tentang agamanya sebelum masuk Islam. Belum sampai lima menit, mungkin, kami sudah diminta berkumpul untuk kembali ke sekolah dengan taksi online.

Em … aku tidak akan PERNAH melupakan ini. Bagaimana bapak itu bilang bahwa aku akan jadi penyanyi. Heeeh?? No way! Sepulang sekolah teman-temanku menceritakan hal tersebut pada Pak Fahe’ (gimana cara nulisnya? Pokoknya bacanya gitu), guru Bahasa Inggris-ku. It makes me feel better. Soalnya aku tidak mau jadi penyanyi (mohin doa agar tidak jadi penyanyi hiburan). Dan Pak Fahe’ bilang: “Eh, nggak boleh jadi penyanyi. Tapi untuk keluarga y boleh.”

~oh freedom is mine … and i know how blabla i feel so good, I feel … so good/yuhuu

Hm, apalagi, ya?? Mungkin itu dulu saja, ya.

Wassalamu’alaikum!

Bu Irma= Aliyah, Ghina, Ima, Niswah, Utari.

Pak Subhan= Moetiah, Masyithah, Lisa.

Pak Irwan= Chici, Fika, Alya, Dini, Rani.

Sepertinya itu semua peserta tahfidz akhwat kelas tujuh 2017/2018 yang ikut karantina.

Tak Berkategori

Review ehh gaje

Assalamu’alaikum,

I just want to review (idk, it’s very a simple review actually)

Nah, di atas itu (kelihatan, nggak? Kelihatan, nggak?) adalah buka favorit aku. Tentang Muhammad Al-Fatih. Kalian tahu, kan? Elang yang menaklukkan Konstantinopel.

First i know this story by my adik kelas. Yup! Pas itu masih kelas enam. Dan nggak salah adik kelasku itu baru kelas empat. Terus dia punya yang versi komik (ilustratornya sama dengan yang buat gambar untuk novelnya, novel oleh Sayf Muhammad Isa, cerita dari Felix Y. Siauw) bagian pertama.

Serius!! Gambarnya kereen ++, ceritanya *ehem makes me cry sure.

Ketagihan. Terus pergi ke toko buku, eh, komiknya dah habis, yang ada cuman novel. It’s okay. I but it.

Tapi baru yang kedua, soalnya nggak ada yang pertama. Terus lama … beli yang keempat karena ketiga belum ada (dan setelah lama … lagi, yang ketiga at last muncul).

I’m so exting like … idk i can’t tell you.

Itulah review-nya. Hehe, iya pendek. Kapan-kapan dilanjutin, deh.

Wassalamua’alaikum,

Tak Berkategori

Ujian Kenaikan Sabuk

Assalamu’alaikum

Pastikan kalian membaca judul di atas dengan nada yang dipakai Doraemon saat mengeluarkan benda-benda ajaibnya, ya! Hihi ….

Hari Ahad nanti, aku akan mengikuti ujian kenaikan sabuk karate. 

Ya, karena sekarang (saat saya dengan menulis) masih pagi, dan harus segera pergi ke sekolah, jadi aku hanya akan menceritakan ‘$4□□4□4}’.

Jadi, dalam ujian nanti, bakal ada yang namanya kan(/ke)setsu geri. Padahal, nih, ya, aku belum lincah dengan gerakan tersebut. 

Maka, ketikan tanganku merangkai sebuah kata di mesin pencari Google. Setelah memperagakannya, ehm, aku … a, aku … berpikir, mungkin akan lebih baik jika latihanku diselingi dengan musik soundtrack Naruto saat sedang bertarung. Karena itulah, sebuah kursi kecil ku letakkan di depan cermin, dan aku berdiri di atasnya, memperagakan gerakan kansetsu geri + tidak dilupa musiknya. Hoho~ 

Hanya itu saja (iya sih membosankan, maaf, ya!)

Sampai jumpa!

Tak Berkategori

… With My Sister

Assalamu’alaikum

Delete=photo

Hehe …. Jadi, foto di atas adalah adikku, Giza. Ehm, murem sembrawut kayak baru dapat nilai rendah? Hihi …. Mirip, ya? Eh, eh, bukan, ya!

Jadi ceritanya, tadi, adikku minta ibu aku untuk buat cookies. Terus, dia tanya, tuh, “Kak, buat cookies pake oven, ya?”, terus aku bilang iya. Nah, dia pengennya kue tanpa pakai oven. Teringatlah aku tentang bagaimana ber-gram-gram terigu habis hanya karena bahan churros-ku tidak jadi dulu.

Hehe …. Aku suka banget sama churros, nah, aku mau buat itu sendiri. Jadi, bersama adikku, kami membuat churros. Like what you see, nggak ada look bahwa itu churros sama sekali. Tampilannya paling mendekati (walau minus) dengan kue sus. Rasanya juga. Yah, jauh sejauh matahari dengan Uranus.

Hm, maafkan aku adikku tersayang.

Moral value: make sure you put your mind before your action-anm 😂

Sampai jumpa

Wassalamu’alaikum

—–

What my grandpa say when i take this photo:

Mirip Mama Dedeh, Ghina

Aaaaa …. Karena busana dan make up di-sponsor oleh, ehm, IDK. Siapa, ya?? Menurut kalian? 

Hehe

Tak Berkategori

Buku

Assalamua’alaikum!!

Yah, kalian tentu pernah, kan, sangat menghayati sebuah buku atau cerita yang sedang kalian baca? Saking ‘ngeh-nya itu, lho, kalian kayak, “Ada, sih, ceritanya di dunia nyata?? Ada, sih, tokohnya di dunia nyata???”, atau yang lainnya. Nah, kali ini, saya Ghina, akan mencurahkan ke-galau-an akibat cerita-cerita fantastis bin seru yang membuat andai-andai tergantung terlalu tinggi di langit nan jauh di sana (idiiihh …. 😑

Jadi, untuk ceritanya, adalah … buku dari penulis Afifah Afra. Sebenarnya, buku ini adalah buku salah satu temanku di kelas, Utari, kalau mau lebih jelas (mungkin saja kan kalian punya teman yang namanya, ah, sudahlah, terlalu panjang 😥), Utari Taqiyah Abdullah. Say  hi for Utari!!!

Saat itu, aku dan teman-teman sekolahku sedang ingin mengikuti lomba yang diadakan oleh PECI. Ada yang tahu? Nah, salah satu persyaratannya adalah, menyertakan struk pembelian buku dari penerbit Lintang Indiva, yang tak lain dan tak bukan adalah penerbit dari buku PECI sendiri. 

Pada saat itu, Pak Gege, guru pelajaran menulis kreatif di sekolahku (sekaligus penulis, tentunya) memberikan usulan pada kami semua, siswa yang ingin ikut lomba. Jika ada yang tidak bisa pergi untuk beli bukunya, Pak Gege bisa membelikannya, uangnya tinggal titip dengan Pak Gege. Pada saat itu, Utari ikut menitipkan uangnya untuk Pak Gege. Dan buku yang dibelikan … ternyata, oh, ternyata adalah buku ‘Akik dan Penghimpun Senja’ karya penulis Afifah Afra.

Aku yang cukup tertarik dengan judulnya, meminjamnya dari Utari. Pertama aku sungguh linglung. Haha. Pasalnya, tiap bab diberi judul yang sama sekali tidak kuketahui. Ya, walau ada beberapa yang kutahu itu adalah nama batu akik 💍. Baca, baca, baca, dan baca. Aku berusaha membaca hingga menemukan titik  start yang menurutku seru. Tidak berselang lama, aku menemukan salah satu slogan para pe … ehm! Maafkan saya. Aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk dituliskan. Pokoknya, kalimat ini cukup familiar di mataku, dan aku sangat tertarik dengan kalimat tersebur.

“Take nothing but picture,  leave nothing but footprint, kill nothing but time!”

Kalimat khas dari para pecinta alam itu kukenal saat membaca buku tentang Argo Puro. Sayang aku lupa judulnya. Tapi, aku masih ingat pernah menuliskan ketakjubanku di tulisan sebelumnya. Yah, masih dalam ruang lingkup yang sama. Kertertarikan sastra yang terbatas oleh dunia yang berbeda (hentikan Ghina menulis ini!!!! 😵

Aku sangat suka cerita fiksi ilmiah. Juga buku tentang kisah para pencinta alam serta perjuangannya. Dalam 2 buku tentang pencinta alam yaitu ‘Akik dan Penghimpun Senja’ dan buku ‘Rengganis’ karya Azzura Dayana (baru search di Google tadi, hehe), aku menemukan beberapa hal yang sama. Pertama, feeling yang saking kuatnya, aku benar-benar seakan berada di lokasi kejadian tempat cerita berlangsung bersama tokoh-tokonya. Kedua, slogan pecinta alam yang tadi kutulis. Ketiga, perjuangan di tengah alam yang jarang disentuh manusia, diikuti hal-hal mistis yang ada di sana. Keempat, nama ilmiah serta penjelasannya yang membuatku semakin tertarik. Tentunya masih banyak … lagi. 

Buku ‘Rengganis’ terdapat di sudut literasi sekolahku. Kalau buku ‘Akik dan Penghimpun Senja’, kutemukan lagi saat sedang pelajaran menulis kreatif. Pak Gege meminta kami untuk membaca buku. Dan aku mendapat buku tersebut. Karena saat itu jam pelajaran telah habis, aku meminjam kembali buku Utari. 

Sungguh sangat keren!!!!!!!!!! Buku tersebut menceritakan sekelompok mahasiswa yang sedang meneliti di Luwen Jarang. Yang tanpa mereka sadari, bahaya dari seorang sakti yang percaya takhayul, Ki Gunadi, sedang mengikuti. Ki Gunadi tidak ingin kesucian tempatnya bertapa menghilang, sehingga kesaktian (yang menurutnya diberikan dari leluhur) juga ikut menghilang. 

Tentu amatiran yang satu ini tidak akan bisa memasukkan semua ke-keren-an ke dalam kantong plastik, trus diperlihatkan ke kalian semua. To the point, i love it very much.

 Itulah beberapa contoh kegalauan Ghina. Dan, jangan lupa untuk ikut baca bukunya, ya!! Atau, kalian ingat-ingat kembali, deh, buku apa saja yang paling menyentuh hati kalian (😣)?? 

Sudah dulu, ya! Wassalamu’alaikum!

Tak Berkategori

Lingkar Legendaris

“Ah, saya jadi malu-malu …😶” kata Kak Yani. Semua anak cekikikan melihatnya.

“Tapi HA! Tidak! Sudah berkali-kali Kak Yani sampaikan. Ini lingkaran yang langsung dilihat Allah. Allah sedang tersenyum melihat kita sekarang–Heh! Jangan! Jangan pernah main-main dalam lingkaran ini.”

Itulah Kak Yani. Muro’bi-ku di sekolah. Kak Yani adalah sosok yang sangat seru. Bikin kaget minta ampun. Seperti yang terjadi di atas ⬆. Kalau Kak Yani sedang bicara atau menjelaskan dalam majelis, tapi ada majelis lagi di dalam majelisnya Kak Yani, seperti itulah yang akan terjadi.

Sekarang aku sudah duduk di kelas 7. Sementara Kak Yani telah lama menjadi muro’bi-ku dari kelas 5. Eh, eh. Tapi, Kak Yani bukan muro’bi-ku di kelas 7. Kak Yani ada di kelompok lain. Cuman karena muro’bi-ku tidak datang, oleh karena itu kelompokku bergabung dengan kelompok Kak Yani.

Pertama kali tarbiyah, kelompok yang diajar Kak Yani tidak kedatangan guru. Maksudnya, saat itu, Kak Yani tidak datang. Tapi, Kak Rusmini, muro’bi-ku, hari itu datang. Kelompoknya Kak Yani sebagian bergabung dengan kelompokku.  

Pertama masuk SMP, aku suangat rindu … dengan Kak Yani. Saat menjelaskan di dalam majelis, selalu saja ada sesuatu yang membuat murid-murid tertawa.  Berbagai istilah ada dalam majelisnya Kak Yani. Seperti: “Cit dong”  yang artinya duduk, “OT dan TO” yang artinya On Time, dan Telat, oiyy, dan masih banyak lagi. Kelompok kelas 7 Kak Yani juga baru tahu ternyata muro’bi mereka adalah Kak Yani. Hm … usut punya usut, ternyata nama Kak Yani yang sebenarnya adalah Maryani, sedang kami baru tahu Maryani adalah Kak Yani. 

—-

Aku selalu ingat perkataan Kak Yani. Dan Kak Yani pun selalu mengatakan bahwa ia akan selalu mengatakannya pada kami semua.

Kak Yani selalu mengingatkan. , kami bukanlah anak-anak lagi. Kami semua sudah masuk waktu untuk baligh. Oleh karena itu kita harus menyamakan tingkat sikap kita dengan umur.

“Berkali-kali saya katakan …! Aisyah saja, yang pada saat itu umurnya baru 9 tahun, kalau kita sekarang baru kelas 4 SD, sudah dinikahi Rasulullah! Bayangkan, Nak! Itu mempertegas kita. Kita bukan lagi anak-anak. Kita bukan lagi anak-anak!” Kata Kak Yani.

Lingkar itulah yang insyaallah akan menuntun kita semua ke surga. Kak Yani, terima kasih sebanyak-banyaknya, untuk 2 tahun waktu kemarin. Jangan pernah bayangkan, masuk majelis itu sangat membosankan. Tidak! Contohnya Kak Yani. Dia itu guru gahul. Katanya, “Agama bukan berarti tidak gaul, gaul bukan berarti tidak agama”. Yah … kalian pikir sajalah sendiri artinya.

Yang jelas, majelis yang baik akan menjaga kita untuk selalu berada dekat dengan-Nya.

Wassalamualaikum

Tak Berkategori

Busur

Assalamualaikum!!! 😉

Jadi, di sekolahku ada ekskul pilihan. Ada:

•Bi’atul Arabiyah pekanan

•Panahan

•Robotik

•Sinematografi

•Desain grafis

•Menulis

Nah, di antara semua pilihan tersebut, aku sempat dibuat bimbang olehnya. Lihat saja saingan-saingan pilihan di atas ⬆. Semuanya memiliki manfaat yang sangat luar … biasa. 

Hasil akhir ditentukan, dan (tidak) dapat diganggu gugat. Aku memilih Bi’atul Arabiyah dan Menulis. Bismillah ….

Weiitss …. Ada sesuatu yang kurang rasanya. Panahan adalah sunnah Rasulullah pada kita. Tapi …. Lagi-lagi! Nasi telah menjadi bubur. Aku hanya bisa bersabar menunggu apa yang akan terjadi.

Hoho.

Kalian yang membaca tulisanku sebelumnya di ‘Al-ashri di Parangloe’, pasti, eh … astagfirullah! Hamba lupa menulis sebagian kegiatan lainnya. Seperti … panahan!! 

Foto di atas menunjukkan aku, dan kelompokku, Khaulah binti Azur bersama kelompok Aisyah. Ada Kak Atiyah dan Kak Unhi yang masing-masing adalah ketua kelompok.

Saat tiba giliranku menarik busur panah, aku sempat gugup. Bisa, tidak, ya? Bisa? Tidak, mungkin? Sambil mencabut-cabut satu per satu kelopak bunga. Hehe, enggak, enggak …😅

Ada … apa, ya? Feeling tersendiri saat memegang busur panah. Wah, wah, parah. Aku sudah terlanjur tidak pilih ekskul panah. Huh … tak apa, lah.

—-

“Ma, boleh nggak aku beli busur?” Tanyaku pada Mama yang sedang duduk.

“Iya, iya. Tapi nanti saja, ya! Tunggu sebentar.” Katanya. Aku tersenyum bahagia. Ibuku memperbolehkanku untuk membeli busur.

“Ma, mau beli busur.” Bujukku lagi.

“Tunggu sebentar. Nanti pas kita udah mau ke rumah.” Kata ibuku. Aku mengangguk. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal.

“Ma, busur yang … panah, itu, lho. Yang ini!” Kataku sembari memperagakan gerakan menarik busur pada ibuku. Ibuku mengangguk lagi. Hih? Masa Mama semudah itu memperbolehkanku membeli busur, sih?

“Busur yang panah, Ma.”

“Iya, Nak.” 

—-

Di mobil perjalanan ke rumah 🚗.

“Ma, mau beli busur, Ma.” Pintaku untuk keseribu kalinya.

“Iya. Nanti Mama belikan.”

“Busur yang panah, lho!” Kataku mengingatkan + memastikan. Lagi-lagi aku masih belum percaya ibuku memperbolehkanku membeli busur! B-u-s-u-r.

“Hah? Untuk apa? Perasaan tadi katanya busur yang untuk belajar itu?” Tanya ibuku kaget. Ya, tentulah aku juga ikut kaget. 

“Ma, dari tadi aku sudah bilang busur yang panah itu.”

“Hoho. Hahaha …. Mama kira busur yang ada di toko alat tulis kantor itu.”

~~~begitulah. Walau ibuku tidak mengatakan bahwa aku tidak boleh membeli busur (/secara langsung), namun sejak saat itu, aku tidak ingin menyinggung tentang busur lagi.

🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹

Zulfah bersama skornya
Tak Berkategori

Al-ashri di Parangloe

Tiga ayat terakhir Al-baqarah tidak henti kusebutkan. Al-ikhlas, An-nas, Al-falaq, dan masih banyak lagi.

Krees ..

Aku meneguk ludah untuk kesekian kalinya. Siapa itu? Siapa yang dengan beraninya berlari di sebelah jalan setapak di tengah hutan yang sedang kulewati di malam hari?

—–

“Woah …. Terakhir kali kita naik mobil tentara pas kelas 6, tidak salah. Nggak sekarang kita sudah kelas 7.” 

Aku duduk menyilang menunggu teman kelompokku datang. Sembari menunggu, kami diminta Pak Irwan untuk membaca Al-kahfi, kebetulan hari ini hari Jumat.

Mobil tentara satu per satu telah datang. Hingga tiba waktunya kelompokku yang naik ke mobil tentara.

“Orangnya jangan dulu! Barang first.” Kata Kak Atiyah, ketua kelompokku, Khaulah binti Azur. Aku mengangguk. Kusodorkan barang bawaanku ke lantai mobil tentara yang nyaris menyamai tinggiku.

“Ayo, ayo! Sekarang orangnya.”

Aku melangkahkan kaki ke atas mobil. Hap!

“Annisa! Alhamdulillah, bisa duduk bareng kamu. Yuhuy! Eh, Ilmi! Sini, sini! Duduk di sini.” Aku bersorak gembira dapat duduk bersebelahan dengan dua teman dekatku di sekolah. Yah … walau keduanya tidak sekelas denganku.

“Eh, eh. Lihat! Mobilnya sudah bergerak. Nggak sabar kena angin, nih. Hihihi ….” 

“Wah, wah. Kita lewat sini, ya. Aku juga baru ingat kalau jalan di sini bisa tembus sampai ke Parangloe.” Kata Annisa.

Aku dan Annisa sibuk bertukar cerita tentang jalan menuju Parangloe, tempatku  outbound nanti. Parangloe adalah salah satu tempat di Gowa. Dan balai kehutanan di Parangloe berkesempatan untuk menjadi tempat outbound-ku. 

At last, but not for this story, mobil tentara yang kutumpangi sampai di Parangloe. Sebuah spanduk bertuliskan ‘Outbound SMP Plus Al-ashri’ telah terpampang di sebelah gerbang masuk balai kehutanan Parangloe.

Kesan asing perlahan namun pasti merambat di seluruh pikiranku. Gebang lain yang dikelilingi pagar dan pohon-pohon.   Sepertinya, SMP Plus Al-ashri baru mengadakan outbound di Parangloe. That’s what i guess. 

Tenda-tenda didirikan sendiri-sendiri per kelompok. Kelompokku … dibantu  master sekaligus sumber foto-foto yang kugunakan di tulisanku ini. Haha. Siapa lagi kalau bukan … jeng … jeng … jeng … Pak Ahmad.

Tenda Khaulah (starting to use my group name) 89% telah jadi. Barang-barang kelompokku masih ditata rapi di atas karpet milik Rifdah. Ya, Rifdah ditugaskan untuk membawa karpet, walau sebenarnya sekolah juga telah menyediakan karpet, untuk tenda 🏕.

“Adek, siapa yang mau ini ubi? Paling cocok dengan nasi kuning. Ka banya’ yang bawa nasi kuning.” Kata Kak Amel sembari menyodorkan ubi yang biasanya sepaket dengan nasi kuning. Entah shy shy cat atau apa, tidak ada yang menyahut. Hm … padahal aku yakin pasti teman-temanku yang lain sangat suka dengan ubi itu. Alhasil, untuk mendapatkan ubi yang dimaksud karena saya sangat suka walau sebenarnya shy shy cat juga, aku memintanya dari Kak Amel.

“Saya! Saya juga, Kak!”

“Saya juga!!”

“Amel, jahat kalau nggak bagi ke aku!!”

Begitulah. Jadi, Readers, itulah salah satu aksi dan reaksi jika kalian shy shy  cat. 

Sosis dan mi yang kubawa kusantap dengan perlahan. Semua kenikmatannya tidak boleh kulewatkan. Sampai ….

Prriiit!

Kode untuk berkumpul di lapangan!” Gumamku. Baru ingin menyuap kembali, aku teringat pesan Kak Atiyah, kalau sudah ada tanda seperti itu, mau tidak mau, siap tidak siap, harus segera berkumpul. Apapun yang sedang dilakukan, harus ditinggalkan. Sekali pun makan. D.i.t.i.n.g.g.a.l.k.a.n.

Kakiku langsung melompat keluar karpet dan segera  berlari menuju lapangan untuk upacara. Lagu Beat it dari Fall Out Boy yang digunakan di video kakak kelas SMP-ku saat outbound, ketika mereka sedang santainya tidur, tiba-tiba dibangunkan dan disuruh ke lapangan segera terputar di kepalaku. Hoho~sungguh sangat cocok.

—-

Sore pun tiba. Waktunya untuk memasak makan malam. Nasi goreng judulnya.

Dan ini saat salat

—-

“Khaulah, siap?” Tanya Pak Irwan. Kak Lulu dan Kamila sempat ragu.

“Silakan duduk kembali kalau kalian ragu.” Kata Pak Irwan lagi dengan senyum khasnya, saat itu terlihat menyeramkan.

“Enggak. Enggak, kok, Pak. Kami bisa, kok.” 

Sekarang adalah waktunya untuk jurit malam. Satu kelompok yang terdiri dari 12 orang dibagi 2 menjadi 6 orang. 6 orang itu akan berjalan bersama untuk jurit malam. Dan aku, bersama Kak Lulu, Kamila, Rifdah, Ilmi, dan Kak Amel.

“Oke. Lihat gerbang itu? Keluar dari sana, ke kiri terus … sampai kalian dapat pos pertama. Setelah itu, kalian akan dituntun ke pos selanjutnya dengan tali. Karena itu jangan main-main! Pastikan mulut kalian tidak berhenti berdzikir. Jarak pos satu dengan yang lainnya tidak terlalu panjang. Jadi jika kalian berjalan lama tapi belum juga mendapat pos selanjutnya, berhenti, dan pergi ke pos sebelumnya.” Pak Irwan memberi isyarat pada kami untuk segera berjalan. Bulu kudukku mulai berdiri. Bayangkan saja! Jalan ke kiri dari gerbang ke atas adalah hutan. Sangat … gelap. Tidak ada penerangan sama sekali.

Jalan yang kulewati mulai berubah. Jalannya adalah bebatuan. Kakiku mulai pegal.

“Eh, kayaknya kita salah jalan, deh. Dari tadi belum sampai juga. Jangan-jangan pos 1 sudah kelewat.” Kataku.

“Tenang aja, Gin. Jalan aja dulu. Mungkin saja sebentar lagi pos 1.” Kata temanku yang lain. Aku tidak mengangguk. Hawa dingin menusuk tulang seakan ikut menguji nyaliku.

Bruuk … bruukk ….

Aku berbalik. Batu! Bebatuan jatuh dari atas. Batu-batu itu baru jatuh saat kami berbicara. 

Hihihi … hihihi ….”

Seakan disengat tegangan listrik super tinggi, bulu kudukku berdiri spontan.

“Sudah, sudah, Nak. Jangan jalan lagi. Pak Guru mau tanya, kalian dari kelompok mana?” Tanya orang yang tadi menakuti kami, Pak Hamzah! Di sebelahnya telah berdiri Pak Agiel yang menutupi kepalanya dengan sarung.

“Khaulah, Pak.”

“Oh, siapa itu Khaulah?” Tanya Pak Hamzah lagi. Setelah menjawab, kami diminta berjalan menaiki jalan setapak di sebelah jalan utama yang memasuki hutan. Aku sempat ragu. Ke sana? Tidak, tidak. Aku harus berani.

Pos 2.

“Jadi, kalian dari Khaulah? Siapa itu Khaulah?” Tanya Pak Salman, guru yang menjaga pos 2. Akhirnya kami sampai di pos 2. Kami menjawab lagi. Pak Salman lalu menunjukkan arah ke pos 3 dengan sebuah parang. Merinding parah! 

Berkali-kali aku mengusap pelipisku yang tak henti-hentinya dihujani keringat. Berkali-kali pula kakiku terpeleset setelah mendaki di tengah hutan. Tidak ada guru–yang kami lihat.

Pos 3.

“Berhenti! Tunggu sebentar!” Kata Pak Hasir. Ya, aku mengenalnya dari suara. Aku juga dapat mendengar suara Pak Nurdin beberapa meter di depan. Sepertinya, masih ada kelompok ikhwan yang masih di pos 3. Karena itu, kelompokku diminta berhenti jauh sebelum pos 3. Senter diminta untuk dimatikan.

“Lanjut!” Kata Pak Hasir. Kelompokku pun menyalakan senter dan berjalan menuju pos 3. Samar-samar terlihat Pak Nurdin, Pak Hasir, dan seorang tentara. Senter dimatikan kembali.

Assalamualaikum, Pak.” Kata kelompokku serempak.

Waalaikumsalam. Nah, ini bagus! Kelompok yang tadi, Pak Guru hukum tiarap karena tidak ucap salam. Dari kelompok mana?” Tanya Pak Hasir. Aku menghembuskan napas lega. 

“Khaulah binti Azur.”

“Ya. Belakangan ini, masih hangat berita tentang saudara-saudara kita yang ada di Rohingya. Kalian tahu apa yang terjadi dengan mereka?” Tanya Pak Nurdin. Aku menyadari sesuatu, Pal Nurdin sedang memegang ember. -Was-was.

“Mereka itu pergi menyelamatkan diri ke hutan. Perbekalan mereka habis. Kalian tahu apa yang mereka makan? Ular, bahkan yang ada di tanah pun, seperti? Seperti cacing. Kalian peduli dengan saudara-saudara kalian?” Tanya Pak Nurdin lagi. Kami semua menjawab semangat, “Iya!”. Pak Nurdin bertanya hal yang sama lagi. Kami pun mulai ragu-ragu menjawab.

” Oke. Pak Guru mau buktikan siapa saja dari kalian yang munafik. Ini Pak Guru punya makanan yang sama dengan makanannya saudara kalian saat di hutan. Buka mulutnya!” Pinta Pak Nurdin sembari menyodorkan se … ekor, cacing! Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak kencang. Can i do something like that? Yes, of course. Aku bukan orang munafik.

“Aaa ….” Pak Nurdin memberi isyarat padaku. Aku pun membuka mulut lebar-lebar, dan siap merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Kopi! Cacing rasa kopi!” Sahutku heran. Walau begitu, perasaanku masih campur aduk. Jangan-jangan ini bukan cacing, eh, tapi tadi aku dapat melihat dengan jelas benda mirip cacing yang diselimuti … tanah? Atau kopi? Atau tanah dan kopi?

“Ini cacing yang Pak Guru dapat dari WC. Pak Guru korek-korek tempat sampahnya, lalu Pak Guru aduk cacingnya dengan kopi, supaya amisnya hilang. Makan saja! Cacing itu protein.” Jelas Pak Nurdin. Aku dapat merasakan ‘benda’ yang sedang kumakan tersebut. Rasanya … seperti apa, ya? Setelah selesai, buru-buru aku meminum air yang kubawa.

“Huhft ….” kuusap mulutku. Entah kenapa, tapi rasanya, ya … senang saja, akhirnya aku bisa makan cacing. Padahal aku sangat anti dengan cacing dan ulat. Wah, wah, bahagia sekali 😄.

Perjalanan selanjutnya ke pos 4. Senterku yang tergantung belum pernah kunyalakan karena suka mati dan nyala sesuka hati. Namun, di perjalanan kali ini, aku menyalakannya dan menyenternya ke sembarang tempat. 

Wuooh …!” Jeritku dalam hati. Seorang laki-laki (mungkin tentara), dengan seorang anak sedang duduk tanpa penerangan. Aku segera mengalihkan senterku. Aku tidak ingin temanku yang lain jadi low karena apa yang kulihat tadi. Aku berusaha untuk diam. Yah … walau sebenarnya tidak terlalu menyeramkan, sih.

Tali penunjuk arah menunjuk ke sebuah belokan. Kelompokku pun pergi ke belokan tersebut. Oopps! Aku tersandung sesuatu. Dan tidak lama setelah itu, sebuah benda putih jatuh tidak jauh dari tempatku berdiri. Itu pasti pocong buatan pak guru! Kusenter ke arah yang lebih jauh. Astagfirullah! Sebuah/seorang/seekor(/eh) pocong berdiri lebih jauh lagi. Pocong yang satu ini pasti hanya pak guru. Yang sebelumnya mungkin hanya bantal atau karung. Ya! Aku yakin itu. Kakiku segera berlari menjauh.

“Kak, tadi aku lihat pocong di sana.” 

“Huussh …. Adek Ghina, tenang saja. Nggak usah singgung itu, oke?” Kata Kak Amel. Aku mengangguk pelan. 

Pos 5/pertanyaannya nanti saja, ya!

“Pak, kok, langsung ke pos 5, sih? Tadi baru di pos 3.”

“Oh, kalau gitu balik aja ke pos 3. Silakan.” Kata Pak Subhan, bisa kupastikan walau senter dimatikan.

“Enggak. Enggak. Enggak mau.” Kami segera menolak, pastinya. Setelah menjawab pertanyaan, kami diarahkan ke jalan selanjutnya. The last!

Tiga ayat terakhir Al-baqarah tidak henti kusebutkan. Al-ikhlas, An-nas, Al-falaq, dan masih banyak lagi.

Krees ..

Aku meneguk ludah untuk sekian kalinya. Siapa itu? Siapa yang dengan beraninya berlari di sebelah jalan setapak di tengah hutan yang sedang kulewati di malam hari?

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Bismillah …. Let it go!

Aku mendengar suara batu. Suara-suara ala hantu, dan many more. 

“Baa!!” Pak Ahmad mengangetkan kelompokku dari balik pohon. Kelompok yang telah melewati semua pos telah berkumpul dan ikut mengagetkan kami dengar sambutan riuh dan sorotan senter-senter mereka + botol air minum (entah apa tujuannya).

Hoho~inilah akhirnya untuk jurit malam. Malam itu dilanjutkan dengan renungan dari Pak Ahmad. Besoknya, kami melanjutkan kegiatan outbound.

Done!

—-

Eh, eh … aku tidak lupa pas tengah malam hujan turun deras, membanjiri tenda-tenda. Bagaimana kita mengungsi ke tempat yang aman.

Juga saat kita terkena macet. Melihat mobil-mobil tentara lain yang baru datang padahal kami sudah seperempat perjalanan (tapi sudah lama, lho! Soalnya macetnya ada di setiap 5 menit kami di perjalanan). Melihat Kak Widya di seberang mobil tentara yang kutampangi meratapi topi pramukanya yang hilang saat pergi dari Makassar ke Parangloe. Begini katanya: “Oh, topiku! Semoga penemu topiku menggunakannya untuk kebaikan. Namun, ingatlah, wahai topi! Jangan lupa pemilik pertamamu ini.”-adegandidramatisirkarenapenulislupaperkataanpersisdarinarasumber.

Dan … saat hujan yang masuk ke dalam mobil, walau aku sebenarnya sangat menikmati. Hingga akhirnya sampai di sekolah. Home sweet home! I just want you to know what we’re doing in our sweet memory for Al-ashri.

pagi hari setelah jurit, Pak Hasir mengumumkan berita yang sangat … penting.

“Jadi, Anak-anakku. Untuk mencegah kesalahpahaman terjadi di antara kita, cacing yang kalian makan tadi itu memiliki merek. Dan mereknya itu namanya Indomie. Tapi mirip dengan aslinya, kan? Itu membuktikan guru-guru Al-ashri itu sungguh kreatif.”

–maaf jika ada kalimat yang cukup aneh, karena sesungguhnya cerita nyata ini dijalankan dengan logat Makassar, yang membuat kalimat bahasa Indonesia-nya terdengar lebay jika diartikan.

Terima kasih telah membaca! See you next time! Wassalamualaikum!