Featured

Ghinatera

Assalamualaikum, everyone!😁

Call me Ghina. G-H-I-N-A. Ghi dan na. Sudah hafal? Hehe
Ehm … Sebenarnya bukan yang pertama, sih. Sebelumnya, aku punya situs yang lain. Ghaniatera.wordpress.com (?). Sudah ada beberapa tulisan di sana. Kalian boleh baca tulisanku yang ada di sana 😁 (yatentulah …). Mungkin … hm, aku bisa jadikan situs itu menjadi, yah … situs perkenalan. Di sana kalian bisa mengenalku lebih dekat. You can see my goals, and some of my stories. Jangan lupa dibaca, ya!

See ya!! πŸ˜€πŸ˜„

Advertisements

Ujian Kenaikan Sabuk

Assalamu’alaikum

Pastikan kalian membaca judul di atas dengan nada yang dipakai Doraemon saat mengeluarkan benda-benda ajaibnya, ya! Hihi ….

Hari Ahad nanti, aku akan mengikuti ujian kenaikan sabuk karate. 

Ya, karena sekarang (saat saya dengan menulis) masih pagi, dan harus segera pergi ke sekolah, jadi aku hanya akan menceritakan ‘$4β–‘β–‘4β–‘4}’.

Jadi, dalam ujian nanti, bakal ada yang namanya kan(/ke)setsu geri. Padahal, nih, ya, aku belum lincah dengan gerakan tersebut. 

Maka, ketikan tanganku merangkai sebuah kata di mesin pencari Google. Setelah memperagakannya, ehm, aku … a, aku … berpikir, mungkin akan lebih baik jika latihanku diselingi dengan musik soundtrack Naruto saat sedang bertarung. Karena itulah, sebuah kursi kecil ku letakkan di depan cermin, dan aku berdiri di atasnya, memperagakan gerakan kansetsu geri + tidak dilupa musiknya. Hoho~ 

Hanya itu saja (iya sih membosankan, maaf, ya!)

Sampai jumpa!

… With My Sister

Assalamu’alaikum

Delete=photo

Hehe …. Jadi, foto di atas adalah adikku, Giza. Ehm, murem sembrawut kayak baru dapat nilai rendah? Hihi …. Mirip, ya? Eh, eh, bukan, ya!

Jadi ceritanya, tadi, adikku minta ibu aku untuk buat cookies. Terus, dia tanya, tuh, “Kak, buat cookies pake oven, ya?”, terus aku bilang iya. Nah, dia pengennya kue tanpa pakai oven. Teringatlah aku tentang bagaimana ber-gram-gram terigu habis hanya karena bahan churros-ku tidak jadi dulu.

Hehe …. Aku suka banget sama churros, nah, aku mau buat itu sendiri. Jadi, bersama adikku, kami membuat churros. Like what you see, nggak ada look bahwa itu churros sama sekali. Tampilannya paling mendekati (walau minus) dengan kue sus. Rasanya juga. Yah, jauh sejauh matahari dengan Uranus.

Hm, maafkan aku adikku tersayang.

Moral value: make sure you put your mind before your action-anm πŸ˜‚

Sampai jumpa

Wassalamu’alaikum

—–

What my grandpa say when i take this photo:

Mirip Mama Dedeh, Ghina

Aaaaa …. Karena busana dan make up di-sponsor oleh, ehm, IDK. Siapa, ya?? Menurut kalian? 

Hehe

Buku

Assalamua’alaikum!!

Yah, kalian tentu pernah, kan, sangat menghayati sebuah buku atau cerita yang sedang kalian baca? Saking ‘ngeh-nya itu, lho, kalian kayak, “Ada, sih, ceritanya di dunia nyata?? Ada, sih, tokohnya di dunia nyata???”, atau yang lainnya. Nah, kali ini, saya Ghina, akan mencurahkan ke-galau-an akibat cerita-cerita fantastis bin seru yang membuat andai-andai tergantung terlalu tinggi di langit nan jauh di sana (idiiihh …. πŸ˜‘

Jadi, untuk ceritanya, adalah … buku dari penulis Afifah Afra. Sebenarnya, buku ini adalah buku salah satu temanku di kelas, Utari, kalau mau lebih jelas (mungkin saja kan kalian punya teman yang namanya, ah, sudahlah, terlalu panjang πŸ˜₯), Utari Taqiyah Abdullah. Say  hi for Utari!!!

Saat itu, aku dan teman-teman sekolahku sedang ingin mengikuti lomba yang diadakan oleh PECI. Ada yang tahu? Nah, salah satu persyaratannya adalah, menyertakan struk pembelian buku dari penerbit Lintang Indiva, yang tak lain dan tak bukan adalah penerbit dari buku PECI sendiri. 

Pada saat itu, Pak Gege, guru pelajaran menulis kreatif di sekolahku (sekaligus penulis, tentunya) memberikan usulan pada kami semua, siswa yang ingin ikut lomba. Jika ada yang tidak bisa pergi untuk beli bukunya, Pak Gege bisa membelikannya, uangnya tinggal titip dengan Pak Gege. Pada saat itu, Utari ikut menitipkan uangnya untuk Pak Gege. Dan buku yang dibelikan … ternyata, oh, ternyata adalah buku ‘Akik dan Penghimpun Senja’ karya penulis Afifah Afra.

Aku yang cukup tertarik dengan judulnya, meminjamnya dari Utari. Pertama aku sungguh linglung. Haha. Pasalnya, tiap bab diberi judul yang sama sekali tidak kuketahui. Ya, walau ada beberapa yang kutahu itu adalah nama batu akik πŸ’. Baca, baca, baca, dan baca. Aku berusaha membaca hingga menemukan titik  start yang menurutku seru. Tidak berselang lama, aku menemukan salah satu slogan para pe … ehm! Maafkan saya. Aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk dituliskan. Pokoknya, kalimat ini cukup familiar di mataku, dan aku sangat tertarik dengan kalimat tersebur.

“Take nothing but picture,  leave nothing but footprint, kill nothing but time!”

Kalimat khas dari para pecinta alam itu kukenal saat membaca buku tentang Argo Puro. Sayang aku lupa judulnya. Tapi, aku masih ingat pernah menuliskan ketakjubanku di tulisan sebelumnya. Yah, masih dalam ruang lingkup yang sama. Kertertarikan sastra yang terbatas oleh dunia yang berbeda (hentikan Ghina menulis ini!!!! 😡

Aku sangat suka cerita fiksi ilmiah. Juga buku tentang kisah para pencinta alam serta perjuangannya. Dalam 2 buku tentang pencinta alam yaitu ‘Akik dan Penghimpun Senja’ dan buku ‘Rengganis’ karya Azzura Dayana (baru search di Google tadi, hehe), aku menemukan beberapa hal yang sama. Pertama, feeling yang saking kuatnya, aku benar-benar seakan berada di lokasi kejadian tempat cerita berlangsung bersama tokoh-tokonya. Kedua, slogan pecinta alam yang tadi kutulis. Ketiga, perjuangan di tengah alam yang jarang disentuh manusia, diikuti hal-hal mistis yang ada di sana. Keempat, nama ilmiah serta penjelasannya yang membuatku semakin tertarik. Tentunya masih banyak … lagi. 

Buku ‘Rengganis’ terdapat di sudut literasi sekolahku. Kalau buku ‘Akik dan Penghimpun Senja’, kutemukan lagi saat sedang pelajaran menulis kreatif. Pak Gege meminta kami untuk membaca buku. Dan aku mendapat buku tersebut. Karena saat itu jam pelajaran telah habis, aku meminjam kembali buku Utari. 

Sungguh sangat keren!!!!!!!!!! Buku tersebut menceritakan sekelompok mahasiswa yang sedang meneliti di Luwen Jarang. Yang tanpa mereka sadari, bahaya dari seorang sakti yang percaya takhayul, Ki Gunadi, sedang mengikuti. Ki Gunadi tidak ingin kesucian tempatnya bertapa menghilang, sehingga kesaktian (yang menurutnya diberikan dari leluhur) juga ikut menghilang. 

Tentu amatiran yang satu ini tidak akan bisa memasukkan semua ke-keren-an ke dalam kantong plastik, trus diperlihatkan ke kalian semua. To the point, i love it very much.

 Itulah beberapa contoh kegalauan Ghina. Dan, jangan lupa untuk ikut baca bukunya, ya!! Atau, kalian ingat-ingat kembali, deh, buku apa saja yang paling menyentuh hati kalian (😣)?? 

Sudah dulu, ya! Wassalamu’alaikum!

Lingkar Legendaris

“Ah, saya jadi malu-malu …😢” kata Kak Yani. Semua anak cekikikan melihatnya.

“Tapi HA! Tidak! Sudah berkali-kali Kak Yani sampaikan. Ini lingkaran yang langsung dilihat Allah. Allah sedang tersenyum melihat kita sekarang–Heh! Jangan! Jangan pernah main-main dalam lingkaran ini.”

Itulah Kak Yani. Muro’bi-ku di sekolah. Kak Yani adalah sosok yang sangat seru. Bikin kaget minta ampun. Seperti yang terjadi di atas ⬆. Kalau Kak Yani sedang bicara atau menjelaskan dalam majelis, tapi ada majelis lagi di dalam majelisnya Kak Yani, seperti itulah yang akan terjadi.

Sekarang aku sudah duduk di kelas 7. Sementara Kak Yani telah lama menjadi muro’bi-ku dari kelas 5. Eh, eh. Tapi, Kak Yani bukan muro’bi-ku di kelas 7. Kak Yani ada di kelompok lain. Cuman karena muro’bi-ku tidak datang, oleh karena itu kelompokku bergabung dengan kelompok Kak Yani.

Pertama kali tarbiyah, kelompok yang diajar Kak Yani tidak kedatangan guru. Maksudnya, saat itu, Kak Yani tidak datang. Tapi, Kak Rusmini, muro’bi-ku, hari itu datang. Kelompoknya Kak Yani sebagian bergabung dengan kelompokku.  

Pertama masuk SMP, aku suangat rindu … dengan Kak Yani. Saat menjelaskan di dalam majelis, selalu saja ada sesuatu yang membuat murid-murid tertawa.  Berbagai istilah ada dalam majelisnya Kak Yani. Seperti: “Cit dong”  yang artinya duduk, “OT dan TO” yang artinya On Time, dan Telat, oiyy, dan masih banyak lagi. Kelompok kelas 7 Kak Yani juga baru tahu ternyata muro’bi mereka adalah Kak Yani. Hm … usut punya usut, ternyata nama Kak Yani yang sebenarnya adalah Maryani, sedang kami baru tahu Maryani adalah Kak Yani. 

—-

Aku selalu ingat perkataan Kak Yani. Dan Kak Yani pun selalu mengatakan bahwa ia akan selalu mengatakannya pada kami semua.

Kak Yani selalu mengingatkan. , kami bukanlah anak-anak lagi. Kami semua sudah masuk waktu untuk baligh. Oleh karena itu kita harus menyamakan tingkat sikap kita dengan umur.

“Berkali-kali saya katakan …! Aisyah saja, yang pada saat itu umurnya baru 9 tahun, kalau kita sekarang baru kelas 4 SD, sudah dinikahi Rasulullah! Bayangkan, Nak! Itu mempertegas kita. Kita bukan lagi anak-anak. Kita bukan lagi anak-anak!” Kata Kak Yani.

Lingkar itulah yang insyaallah akan menuntun kita semua ke surga. Kak Yani, terima kasih sebanyak-banyaknya, untuk 2 tahun waktu kemarin. Jangan pernah bayangkan, masuk majelis itu sangat membosankan. Tidak! Contohnya Kak Yani. Dia itu guru gahul. Katanya, “Agama bukan berarti tidak gaul, gaul bukan berarti tidak agama”. Yah … kalian pikir sajalah sendiri artinya.

Yang jelas, majelis yang baik akan menjaga kita untuk selalu berada dekat dengan-Nya.

Wassalamualaikum

Busur

Assalamualaikum!!! πŸ˜‰

Jadi, di sekolahku ada ekskul pilihan. Ada:

β€’Bi’atul Arabiyah pekanan

β€’Panahan

β€’Robotik

β€’Sinematografi

β€’Desain grafis

β€’Menulis

Nah, di antara semua pilihan tersebut, aku sempat dibuat bimbang olehnya. Lihat saja saingan-saingan pilihan di atas ⬆. Semuanya memiliki manfaat yang sangat luar … biasa. 

Hasil akhir ditentukan, dan (tidak) dapat diganggu gugat. Aku memilih Bi’atul Arabiyah dan Menulis. Bismillah ….

Weiitss …. Ada sesuatu yang kurang rasanya. Panahan adalah sunnah Rasulullah pada kita. Tapi …. Lagi-lagi! Nasi telah menjadi bubur. Aku hanya bisa bersabar menunggu apa yang akan terjadi.

Hoho.

Kalian yang membaca tulisanku sebelumnya di ‘Al-ashri di Parangloe’, pasti, eh … astagfirullah! Hamba lupa menulis sebagian kegiatan lainnya. Seperti … panahan!! 

Foto di atas menunjukkan aku, dan kelompokku, Khaulah binti Azur bersama kelompok Aisyah. Ada Kak Atiyah dan Kak Unhi yang masing-masing adalah ketua kelompok.

Saat tiba giliranku menarik busur panah, aku sempat gugup. Bisa, tidak, ya? Bisa? Tidak, mungkin? Sambil mencabut-cabut satu per satu kelopak bunga. Hehe, enggak, enggak …πŸ˜…

Ada … apa, ya? Feeling tersendiri saat memegang busur panah. Wah, wah, parah. Aku sudah terlanjur tidak pilih ekskul panah. Huh … tak apa, lah.

—-

“Ma, boleh nggak aku beli busur?” Tanyaku pada Mama yang sedang duduk.

“Iya, iya. Tapi nanti saja, ya! Tunggu sebentar.” Katanya. Aku tersenyum bahagia. Ibuku memperbolehkanku untuk membeli busur.

“Ma, mau beli busur.” Bujukku lagi.

“Tunggu sebentar. Nanti pas kita udah mau ke rumah.” Kata ibuku. Aku mengangguk. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal.

“Ma, busur yang … panah, itu, lho. Yang ini!” Kataku sembari memperagakan gerakan menarik busur pada ibuku. Ibuku mengangguk lagi. Hih? Masa Mama semudah itu memperbolehkanku membeli busur, sih?

“Busur yang panah, Ma.”

“Iya, Nak.” 

—-

Di mobil perjalanan ke rumah πŸš—.

“Ma, mau beli busur, Ma.” Pintaku untuk keseribu kalinya.

“Iya. Nanti Mama belikan.”

“Busur yang panah, lho!” Kataku mengingatkan + memastikan. Lagi-lagi aku masih belum percaya ibuku memperbolehkanku membeli busur! B-u-s-u-r.

“Hah? Untuk apa? Perasaan tadi katanya busur yang untuk belajar itu?” Tanya ibuku kaget. Ya, tentulah aku juga ikut kaget. 

“Ma, dari tadi aku sudah bilang busur yang panah itu.”

“Hoho. Hahaha …. Mama kira busur yang ada di toko alat tulis kantor itu.”

~~~begitulah. Walau ibuku tidak mengatakan bahwa aku tidak boleh membeli busur (/secara langsung), namun sejak saat itu, aku tidak ingin menyinggung tentang busur lagi.

🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹

Zulfah bersama skornya

Al-ashri di Parangloe

Tiga ayat terakhir Al-baqarah tidak henti kusebutkan. Al-ikhlas, An-nas, Al-falaq, dan masih banyak lagi.

Krees ..

Aku meneguk ludah untuk kesekian kalinya. Siapa itu? Siapa yang dengan beraninya berlari di sebelah jalan setapak di tengah hutan yang sedang kulewati di malam hari?

—–

“Woah …. Terakhir kali kita naik mobil tentara pas kelas 6, tidak salah. Nggak sekarang kita sudah kelas 7.” 

Aku duduk menyilang menunggu teman kelompokku datang. Sembari menunggu, kami diminta Pak Irwan untuk membaca Al-kahfi, kebetulan hari ini hari Jumat.

Mobil tentara satu per satu telah datang. Hingga tiba waktunya kelompokku yang naik ke mobil tentara.

“Orangnya jangan dulu! Barang first.” Kata Kak Atiyah, ketua kelompokku, Khaulah binti Azur. Aku mengangguk. Kusodorkan barang bawaanku ke lantai mobil tentara yang nyaris menyamai tinggiku.

“Ayo, ayo! Sekarang orangnya.”

Aku melangkahkan kaki ke atas mobil. Hap!

“Annisa! Alhamdulillah, bisa duduk bareng kamu. Yuhuy! Eh, Ilmi! Sini, sini! Duduk di sini.” Aku bersorak gembira dapat duduk bersebelahan dengan dua teman dekatku di sekolah. Yah … walau keduanya tidak sekelas denganku.

“Eh, eh. Lihat! Mobilnya sudah bergerak. Nggak sabar kena angin, nih. Hihihi ….” 

“Wah, wah. Kita lewat sini, ya. Aku juga baru ingat kalau jalan di sini bisa tembus sampai ke Parangloe.” Kata Annisa.

Aku dan Annisa sibuk bertukar cerita tentang jalan menuju Parangloe, tempatku  outbound nanti. Parangloe adalah salah satu tempat di Gowa. Dan balai kehutanan di Parangloe berkesempatan untuk menjadi tempat outbound-ku. 

At last, but not for this story, mobil tentara yang kutumpangi sampai di Parangloe. Sebuah spanduk bertuliskan ‘Outbound SMP Plus Al-ashri’ telah terpampang di sebelah gerbang masuk balai kehutanan Parangloe.

Kesan asing perlahan namun pasti merambat di seluruh pikiranku. Gebang lain yang dikelilingi pagar dan pohon-pohon.   Sepertinya, SMP Plus Al-ashri baru mengadakan outbound di Parangloe. That’s what i guess. 

Tenda-tenda didirikan sendiri-sendiri per kelompok. Kelompokku … dibantu  master sekaligus sumber foto-foto yang kugunakan di tulisanku ini. Haha. Siapa lagi kalau bukan … jeng … jeng … jeng … Pak Ahmad.

Tenda Khaulah (starting to use my group name) 89% telah jadi. Barang-barang kelompokku masih ditata rapi di atas karpet milik Rifdah. Ya, Rifdah ditugaskan untuk membawa karpet, walau sebenarnya sekolah juga telah menyediakan karpet, untuk tenda πŸ•.

“Adek, siapa yang mau ini ubi? Paling cocok dengan nasi kuning. Ka banya’ yang bawa nasi kuning.” Kata Kak Amel sembari menyodorkan ubi yang biasanya sepaket dengan nasi kuning. Entah shy shy cat atau apa, tidak ada yang menyahut. Hm … padahal aku yakin pasti teman-temanku yang lain sangat suka dengan ubi itu. Alhasil, untuk mendapatkan ubi yang dimaksud karena saya sangat suka walau sebenarnya shy shy cat juga, aku memintanya dari Kak Amel.

“Saya! Saya juga, Kak!”

“Saya juga!!”

“Amel, jahat kalau nggak bagi ke aku!!”

Begitulah. Jadi, Readers, itulah salah satu aksi dan reaksi jika kalian shy shy  cat. 

Sosis dan mi yang kubawa kusantap dengan perlahan. Semua kenikmatannya tidak boleh kulewatkan. Sampai ….

Prriiit!

Kode untuk berkumpul di lapangan!” Gumamku. Baru ingin menyuap kembali, aku teringat pesan Kak Atiyah, kalau sudah ada tanda seperti itu, mau tidak mau, siap tidak siap, harus segera berkumpul. Apapun yang sedang dilakukan, harus ditinggalkan. Sekali pun makan. D.i.t.i.n.g.g.a.l.k.a.n.

Kakiku langsung melompat keluar karpet dan segera  berlari menuju lapangan untuk upacara. Lagu Beat it dari Fall Out Boy yang digunakan di video kakak kelas SMP-ku saat outbound, ketika mereka sedang santainya tidur, tiba-tiba dibangunkan dan disuruh ke lapangan segera terputar di kepalaku. Hoho~sungguh sangat cocok.

—-

Sore pun tiba. Waktunya untuk memasak makan malam. Nasi goreng judulnya.

Dan ini saat salat

—-

“Khaulah, siap?” Tanya Pak Irwan. Kak Lulu dan Kamila sempat ragu.

“Silakan duduk kembali kalau kalian ragu.” Kata Pak Irwan lagi dengan senyum khasnya, saat itu terlihat menyeramkan.

“Enggak. Enggak, kok, Pak. Kami bisa, kok.” 

Sekarang adalah waktunya untuk jurit malam. Satu kelompok yang terdiri dari 12 orang dibagi 2 menjadi 6 orang. 6 orang itu akan berjalan bersama untuk jurit malam. Dan aku, bersama Kak Lulu, Kamila, Rifdah, Ilmi, dan Kak Amel.

“Oke. Lihat gerbang itu? Keluar dari sana, ke kiri terus … sampai kalian dapat pos pertama. Setelah itu, kalian akan dituntun ke pos selanjutnya dengan tali. Karena itu jangan main-main! Pastikan mulut kalian tidak berhenti berdzikir. Jarak pos satu dengan yang lainnya tidak terlalu panjang. Jadi jika kalian berjalan lama tapi belum juga mendapat pos selanjutnya, berhenti, dan pergi ke pos sebelumnya.” Pak Irwan memberi isyarat pada kami untuk segera berjalan. Bulu kudukku mulai berdiri. Bayangkan saja! Jalan ke kiri dari gerbang ke atas adalah hutan. Sangat … gelap. Tidak ada penerangan sama sekali.

Jalan yang kulewati mulai berubah. Jalannya adalah bebatuan. Kakiku mulai pegal.

“Eh, kayaknya kita salah jalan, deh. Dari tadi belum sampai juga. Jangan-jangan pos 1 sudah kelewat.” Kataku.

“Tenang aja, Gin. Jalan aja dulu. Mungkin saja sebentar lagi pos 1.” Kata temanku yang lain. Aku tidak mengangguk. Hawa dingin menusuk tulang seakan ikut menguji nyaliku.

Bruuk … bruukk ….

Aku berbalik. Batu! Bebatuan jatuh dari atas. Batu-batu itu baru jatuh saat kami berbicara. 

Hihihi … hihihi ….”

Seakan disengat tegangan listrik super tinggi, bulu kudukku berdiri spontan.

“Sudah, sudah, Nak. Jangan jalan lagi. Pak Guru mau tanya, kalian dari kelompok mana?” Tanya orang yang tadi menakuti kami, Pak Hamzah! Di sebelahnya telah berdiri Pak Agiel yang menutupi kepalanya dengan sarung.

“Khaulah, Pak.”

“Oh, siapa itu Khaulah?” Tanya Pak Hamzah lagi. Setelah menjawab, kami diminta berjalan menaiki jalan setapak di sebelah jalan utama yang memasuki hutan. Aku sempat ragu. Ke sana? Tidak, tidak. Aku harus berani.

Pos 2.

“Jadi, kalian dari Khaulah? Siapa itu Khaulah?” Tanya Pak Salman, guru yang menjaga pos 2. Akhirnya kami sampai di pos 2. Kami menjawab lagi. Pak Salman lalu menunjukkan arah ke pos 3 dengan sebuah parang. Merinding parah! 

Berkali-kali aku mengusap pelipisku yang tak henti-hentinya dihujani keringat. Berkali-kali pula kakiku terpeleset setelah mendaki di tengah hutan. Tidak ada guru–yang kami lihat.

Pos 3.

“Berhenti! Tunggu sebentar!” Kata Pak Hasir. Ya, aku mengenalnya dari suara. Aku juga dapat mendengar suara Pak Nurdin beberapa meter di depan. Sepertinya, masih ada kelompok ikhwan yang masih di pos 3. Karena itu, kelompokku diminta berhenti jauh sebelum pos 3. Senter diminta untuk dimatikan.

“Lanjut!” Kata Pak Hasir. Kelompokku pun menyalakan senter dan berjalan menuju pos 3. Samar-samar terlihat Pak Nurdin, Pak Hasir, dan seorang tentara. Senter dimatikan kembali.

Assalamualaikum, Pak.” Kata kelompokku serempak.

Waalaikumsalam. Nah, ini bagus! Kelompok yang tadi, Pak Guru hukum tiarap karena tidak ucap salam. Dari kelompok mana?” Tanya Pak Hasir. Aku menghembuskan napas lega. 

“Khaulah binti Azur.”

“Ya. Belakangan ini, masih hangat berita tentang saudara-saudara kita yang ada di Rohingya. Kalian tahu apa yang terjadi dengan mereka?” Tanya Pak Nurdin. Aku menyadari sesuatu, Pal Nurdin sedang memegang ember. -Was-was.

“Mereka itu pergi menyelamatkan diri ke hutan. Perbekalan mereka habis. Kalian tahu apa yang mereka makan? Ular, bahkan yang ada di tanah pun, seperti? Seperti cacing. Kalian peduli dengan saudara-saudara kalian?” Tanya Pak Nurdin lagi. Kami semua menjawab semangat, “Iya!”. Pak Nurdin bertanya hal yang sama lagi. Kami pun mulai ragu-ragu menjawab.

” Oke. Pak Guru mau buktikan siapa saja dari kalian yang munafik. Ini Pak Guru punya makanan yang sama dengan makanannya saudara kalian saat di hutan. Buka mulutnya!” Pinta Pak Nurdin sembari menyodorkan se … ekor, cacing! Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak kencang. Can i do something like that? Yes, of course. Aku bukan orang munafik.

“Aaa ….” Pak Nurdin memberi isyarat padaku. Aku pun membuka mulut lebar-lebar, dan siap merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Kopi! Cacing rasa kopi!” Sahutku heran. Walau begitu, perasaanku masih campur aduk. Jangan-jangan ini bukan cacing, eh, tapi tadi aku dapat melihat dengan jelas benda mirip cacing yang diselimuti … tanah? Atau kopi? Atau tanah dan kopi?

“Ini cacing yang Pak Guru dapat dari WC. Pak Guru korek-korek tempat sampahnya, lalu Pak Guru aduk cacingnya dengan kopi, supaya amisnya hilang. Makan saja! Cacing itu protein.” Jelas Pak Nurdin. Aku dapat merasakan ‘benda’ yang sedang kumakan tersebut. Rasanya … seperti apa, ya? Setelah selesai, buru-buru aku meminum air yang kubawa.

“Huhft ….” kuusap mulutku. Entah kenapa, tapi rasanya, ya … senang saja, akhirnya aku bisa makan cacing. Padahal aku sangat anti dengan cacing dan ulat. Wah, wah, bahagia sekali πŸ˜„.

Perjalanan selanjutnya ke pos 4. Senterku yang tergantung belum pernah kunyalakan karena suka mati dan nyala sesuka hati. Namun, di perjalanan kali ini, aku menyalakannya dan menyenternya ke sembarang tempat. 

Wuooh …!” Jeritku dalam hati. Seorang laki-laki (mungkin tentara), dengan seorang anak sedang duduk tanpa penerangan. Aku segera mengalihkan senterku. Aku tidak ingin temanku yang lain jadi low karena apa yang kulihat tadi. Aku berusaha untuk diam. Yah … walau sebenarnya tidak terlalu menyeramkan, sih.

Tali penunjuk arah menunjuk ke sebuah belokan. Kelompokku pun pergi ke belokan tersebut. Oopps! Aku tersandung sesuatu. Dan tidak lama setelah itu, sebuah benda putih jatuh tidak jauh dari tempatku berdiri. Itu pasti pocong buatan pak guru! Kusenter ke arah yang lebih jauh. Astagfirullah! Sebuah/seorang/seekor(/eh) pocong berdiri lebih jauh lagi. Pocong yang satu ini pasti hanya pak guru. Yang sebelumnya mungkin hanya bantal atau karung. Ya! Aku yakin itu. Kakiku segera berlari menjauh.

“Kak, tadi aku lihat pocong di sana.” 

“Huussh …. Adek Ghina, tenang saja. Nggak usah singgung itu, oke?” Kata Kak Amel. Aku mengangguk pelan. 

Pos 5/pertanyaannya nanti saja, ya!

“Pak, kok, langsung ke pos 5, sih? Tadi baru di pos 3.”

“Oh, kalau gitu balik aja ke pos 3. Silakan.” Kata Pak Subhan, bisa kupastikan walau senter dimatikan.

“Enggak. Enggak. Enggak mau.” Kami segera menolak, pastinya. Setelah menjawab pertanyaan, kami diarahkan ke jalan selanjutnya. The last!

Tiga ayat terakhir Al-baqarah tidak henti kusebutkan. Al-ikhlas, An-nas, Al-falaq, dan masih banyak lagi.

Krees ..

Aku meneguk ludah untuk sekian kalinya. Siapa itu? Siapa yang dengan beraninya berlari di sebelah jalan setapak di tengah hutan yang sedang kulewati di malam hari?

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Bismillah …. Let it go!

Aku mendengar suara batu. Suara-suara ala hantu, dan many more. 

“Baa!!” Pak Ahmad mengangetkan kelompokku dari balik pohon. Kelompok yang telah melewati semua pos telah berkumpul dan ikut mengagetkan kami dengar sambutan riuh dan sorotan senter-senter mereka + botol air minum (entah apa tujuannya).

Hoho~inilah akhirnya untuk jurit malam. Malam itu dilanjutkan dengan renungan dari Pak Ahmad. Besoknya, kami melanjutkan kegiatan outbound.

Done!

—-

Eh, eh … aku tidak lupa pas tengah malam hujan turun deras, membanjiri tenda-tenda. Bagaimana kita mengungsi ke tempat yang aman.

Juga saat kita terkena macet. Melihat mobil-mobil tentara lain yang baru datang padahal kami sudah seperempat perjalanan (tapi sudah lama, lho! Soalnya macetnya ada di setiap 5 menit kami di perjalanan). Melihat Kak Widya di seberang mobil tentara yang kutampangi meratapi topi pramukanya yang hilang saat pergi dari Makassar ke Parangloe. Begini katanya: “Oh, topiku! Semoga penemu topiku menggunakannya untuk kebaikan. Namun, ingatlah, wahai topi! Jangan lupa pemilik pertamamu ini.”-adegandidramatisirkarenapenulislupaperkataanpersisdarinarasumber.

Dan … saat hujan yang masuk ke dalam mobil, walau aku sebenarnya sangat menikmati. Hingga akhirnya sampai di sekolah. Home sweet home! I just want you to know what we’re doing in our sweet memory for Al-ashri.

pagi hari setelah jurit, Pak Hasir mengumumkan berita yang sangat … penting.

“Jadi, Anak-anakku. Untuk mencegah kesalahpahaman terjadi di antara kita, cacing yang kalian makan tadi itu memiliki merek. Dan mereknya itu namanya Indomie. Tapi mirip dengan aslinya, kan? Itu membuktikan guru-guru Al-ashri itu sungguh kreatif.”

–maaf jika ada kalimat yang cukup aneh, karena sesungguhnya cerita nyata ini dijalankan dengan logat Makassar, yang membuat kalimat bahasa Indonesia-nya terdengar lebay jika diartikan.

Terima kasih telah membaca! See you next time! Wassalamualaikum!

Indonesia: 72

Assalamualaikum, Kawan! Semangat, semangat 45 pada tahun ke-72! 
Tulisan kali ini akan memuat kegiatanku di sekolah saat 17 Agustus. Sebagai awal sekaligus agar tulisan ini tidak kepenuhan foto, aku perlihatkan dulu para peserta upacara dan pelaksana saat latihan di sekolahku, yach! πŸ™ƒ Ready? 

Lurus di jalan

Nah, pada saat latihan, kami juga sempat kerja bakti di sekitar lapangan SMA di sekolahku. 

Wajah yang terlihat: (dari kiri) ada Tasya, Aliya 2, dan Aliya 1

Hihihi …. Mungkin kalian sempat bingung, ya? Iya, nih. Di angkatanku ada dua orang yang namanya Aliya. Nah, Aliya yang di tengah itu beda kelas dengan aku. Tapi Aliya yang wajahnya paling kelihatan itu sekelas dengan aku. Sudah paham? Ya … begitulah.

Lanjut. Mulai dari kegiatan pertama, yaitu, upacara. Biasanya, SMP dan SMA di sekolahku ikut upacara dengan anak SD. Tapi, entah yang mana dari seribu alasan membuat sekolahku di tahun ini memisahkan upacara SD dan SMP + SMA. Mungkin terlalu banyak, ya? Oke. Guruku sempat mengabadikan peristiwa ini.

Kelas 8 memakai seragam pramuka. Kelas 7 memakai baju merah

Setelah itu, ada pawai sekaligus lomba gerak jalan. Rute perjalanan selama pawai sama seperti tahun lalu. Namun karena pawai tahun ini diikuti lomba gerak jalan, oleh karena itu perjalanannya sungguh sangat panjang. Jika dilanjutkan terus-menerus, jalanan bisa banjir karena keringatku. Hehehe ….

Sebelum upacara
Saat upacara berlangsung

Adik-adik kelasku juga mengikuti lomba gerak jalan. Masing-masing kelas memakai kostum yang berbeda-beda. Ada yang memakai baju daerah, baju merah dengan hiasan ala 17 Agustus, dan lain-lain. Adik kelas 5 yang sempat menarik perhatianku dan teman-teman karena gerakan mereka yang sungguh sangat kompak (sepertinya kalah dari kakak kelasnya ini, hiks). Dan adiknya Annisa, masih ingat, nggak, dengan Annisa? Si pecinta novel itu …. Adiknya juga bersekolah di SIT Al-Ashri. Namanya Zaki. Dan kebetulan, ia ada di kelas yang kompak itu. 

Mantap, Adik!

Kemeriahan lain di sekolah setelah pawai adalah lomba untuk para orangtua siswa. Ada tarik tambang, volly, menghias nasi tumpeng, dan lain sebagainya. Lomba menghias nasi tumpeng diikuti per kelas. Jadi, para orangtua berkumpul sesuai kelas anaknya masing-masing. Nice, i think. Saatnya orangtua masing-masing siswa bertemu dan tambah akrab. Apalagi teman-temanku yang baru bergabung dengan SIT Al-Ashri, dan juga bagi mereka yang belum pernah bertemu sebelumnya. Nasi tumpeng kelasku bagaimana? Mau lihat? Mau lihat kerja keras kami? 

Bagaimana? Nice or Nike? Eh, maaf, maaf. 

Lapangan SD: merah dan putih

Sekian dulu. Tulisan kali ini diisi banyak dengan foto. Hehehe ….

Oh, iya. Karena ada banyak foto yang ada, kalian mungkin bertanya-tanya, foto ini difoto oleh siapa? Berhubung di sekolah tidak boleh bawa handphone, ini dia fotografernya. Guruku. Kalau mau foto kalian jadi seperti fotoku, silahkan hubungi: Pak Ahmad. Pak guru Rinaldi Ahmad. Jangan lupa follow akun ig-nya, ya! Karena masih ada banyak lagi fotonya di sana.

Pak Ahmad diperlihatkan karena fotonya yang terlalu banyak saya gunakan
Pak guru bisa terkenal, nich! Hehehe …. Sudah dulu. Sampai jumpa! Dan … SEMANGAT CINTA TANAH AIR! INDONESIA!

Paskibraka Pemblokir Jalan (?)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. U la la … sebentar lagi Hari Kemerdekan Indonesia yang ke-72. Apa kabar tangan kalian? Pasti lelah karena hal-hal untuk memeriahkan kemerdekaan Indonesia di sekolah atau … di perumahan kalian?

Nah, pekan kemarin, RT-ku memeriahkan HUT RI dengan mengadakan gerak jalan dan lomba tarik tambang. Sekolahku kan ada di perumahan yang aku tempati sekarang, jadi mereka ikut memeriahkan acara tersebut. Drumband. Aku tahu mereka bekerja keras pagi, siang, dan malam, eh, maksudku, mereka berlatih di sekolah agar bisa tampil dengan baik. Dan kalian tahu? Betapa senangnya diriku ini ketika bertemu salah satu teman baikku di sekolah di sana. Siapa hayo? Belum pada tahu, ya? Jeng … jeng … jeng … Annisa Salsabila. Sang pecinta film dan novel. Juga dan juga, ada guru-guruku yang ikut dalam acara tersebut. Belum lagi teman-teman sekolah yang ikut di sana. 

Saat mendengar rute perjalanannya, aku sempat berpikir itu akan membutuhkan waktu yang sungguh sangat lama. But, in fact, serasa tidak lebih 30 menit berjalan. Ya … mungkin banyak faktor yang membuatnya seperti itu. Hehehe … masih ingat, kan? Teori Albert Einsten yang buegitu fenuomenal (bacadenganmemonyongkanmulut), lupakan.

Untuk lomba-lomba yang diadakan di sekolahku tercinta, SMP Plus Al-Ashri, ada: gerak jalan, volly, menulis cerpen, tarik tambang, dan lain-lain. Nah, dai cilik mulai beraksi. Dengan suara lantang bak petir memecah langit, Zahra mengomando kelasku. Aku pikir, dari kelas satu hingga SMA di sekolahku ikut berlatih. Oleh karena itu, lapangan tidak ada, jalan pun jadi. Tenang saja (slow …) ada empat jalur ke sekolahku yang sambung-menyambung πŸ›£.

Terkadang kami (menyebutnya) PHP, alias pemberi harapan palsu, jika ada mobil yang kiranya ingin berbelok, namun ternyata tidak. Mungkin mobilnya memang mau belok, tapi pas lihat kaminya jadi takut (?). Kadang juga, sekitar beberapa meter dari pertigaan, ada mobil yang belok, dan seketika Zahra meminta kami melangkah untuk beberapa langkah ke kiri atau kanan, dan, ternyata … mobilnya cuman mau parkir di depan kami. Lagi-lagi mungkin karena takut sama kami. Nevermind πŸ˜‘

Ada juga si penjual roti yang selalu menghampiri kami jika sedang latihan di jalan. Buyar sudahlah perhatian menjadi lapar. Tidak sampai di situ, si penjual roti memang setia. Saat perlombaan volly dimulai, ia muncul lagi dengan lagu khas dari perusahaan roti. Sempat pula ia mempromosikan rotinya pada kami para supporter.

Mereka yang berjuang
Fatima Azzahrah VS Ummu Kalsum
Kakakkelasyangfotonyadihalang
Sang pecinta novel

Sekian dulu. Terima kasih banyak. Dan jangan pernah tinggalkan semangat 45 untuk negeri kita! MERDEKA!!

SMP πŸ€”

Assalamualaikum, Kawan. Sehat? Aku doakan supaya sehat, ya!

Tulisan ini kutulis (di buku tulis) saat teman kelasku sedang sibuk-sibuknya menghafal hafalan Quran mereka. Aku? Alhamdulillah aku sudah menghafal (sebagian) hafalan Quran yang sekarang.

.

 Jumpa lagi!! 😁 Lanjutan tulisan ini kutulis di rumahku, kalau kalian mau tahu πŸ˜…. Guruku yang menyuruh kami untuk segera mengambil air wudhu membuat tulisanku terhenti-sementara. 

Yah … setelah 9 tahun lamanya aku tidak merasakan rasa memiliki teman baru yang cukup banyak, akhirnya aku merasakannya kembali. Dua pekan pertama di SMP diisi dengan kegiatan English Training. Ya … semacam kampung Inggris gitulah πŸ˜‰

Kegiatan yang diadakan di sekolahku itu mewajibkan pesertanya untuk selalu memakai bahasa Inggris. Kalau tidak? Satu, dua, tiga …. Kalian harus membayar Rp100,00 untuk setiap kata  tanpa bahasa Inggris. Setelah 2 pekan English Training, akhirnya, hari pertama sekolah reguler dilaksanakan. Bertemu + makin akrab dengan kawan baru itu sungguh menyenangkan! Sebuah kalimat yang pernah kucamkan pada diri sendiri, yaitu, harus jadi pendiam!, tidak kugunakan sepenuhnya saat ini. Sungguh sangat mubazir menyiakan nikmat kesempatan memiliki sahabat.  

Kelasku. Kelasku yang dipenuhi gerombolan wajah-wajah asing menurutku membuatku sedikit canggung. Bagaimana tidak? Aku menuntut diriku untuk berbaur dan berteman dengan mereka semua. Padahal aku, ehm, tidak.tahu.cara.berteman.yang.disukai.oleh.teman. Setelah lama hanya berdiam dengan gaya batu, akhirnya aku membuka diri. Biarlah pertemanan mengalir begitu saja, pikirku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka! 

23. 10 < 13.  Semuanya perempuan. Alhamdulillah … 10 anak baru. 13 yang lainnya sudah kukenal. Pertemanan di kelasku cukup seru menurutku. Kuberitahu, ya! Ada Adel, anak Ambon + anak olimpiade. Zulfa, jiwa pemimpin yang penggila k-pop (/eh). Kaori yang super heboh, humble, blak-blakan, seakan kalau aku berpikir mengenai dia, kayak orang yang tidak ada beban hidupnya. Mungkin dia bilang, dibawa enjoy saja, kawan! . Em.. siapa lagi, ya? Ha! Talitha. Dia juga riang (eh, bukan Riang yang di film ‘Inside Out’ , ya!), perhatian, dan baik. Nah, selanjutnya ada lagi, nih, yang mungkin saja di antara kalian ada yang pernah mendengar atau melihatnya. Zahrah! Dia pernah tampil di ‘Aksi Junior(?)’, loh! Semacam kompetisi bagi para dai-dai cilik berbakat di seluruh Indonesia. Dia baik, pintar, dan lucu. I never think i can meet with her. Next- Utari. Dia sudah hafal 2, 5 juz dalam Al-quran. Dia pun duduk di sebelahku. Jika sedang ada pelajaran Tahfidz seperti tadi, aku selalu kagum melihatnya menghafal kalimat-Nya yang sungguh sangat indah. Aku ingin minta beberapa tips dari dia, dan mungkin bisa kutuliskan di blog-ku ini. Siapa tahu kalian terinspirasi dengannya. Doakan, ya! Sementara hanya itu teman baru yang  dapat kuceritakan untuk kalian. Jika kutuliskan semuanya, tangan kalian bisa pegal men-scroll di layar handphone kalian. Hehehe

Berhubung kelasku berada di bagunan baru di sekolahku, aku pun, yang anak alumni SD-nya tidak cukup tahu bagunan baru itu sebelum belajar di sana. Bangunan SD(+TK) dan SMP dipisahkan oleh sebuah lapangan. Gedung SMA berada cukup dekat dengan gedung SD. Tapi deskripsi yang bisa kuberitahu hanya, bahwa jaraknya lebih 20 langkah. Perpustakaan ada di setiap gedung, kecuali gedung baru yang kutempati. Betapa senangnya aku dan kawan-kawanku ketika melihat sebuah kertas yang ditempel di atas beberapa rak dengan tulisan ‘Sudut Literasi’. Salah satu buku favoritku dan buku yang kurekomendasikan untuk kalian adalah, ‘Rengganis’. Bercerita tentang 8 orang yang melakukan pendakian di sebuah gunung di Jawa Timur. Konon, di sana pernah ada putri dari Kerajaan Maja Pahit yang menghilang, bernama Rengganis. 8 kawan tersebut mendapat pengalaman-pengalaman mistis dari sana. Pokoknya seru, deh! πŸ‘ŒπŸ‘

Em … Mungkin sampai sini dulu. Terima kasih telah membaca sampai sejauh ini. Sampai jumpa!!

Train to Malang

Assalamualaikum, kawan! Maaf kalau nanti tulisannya amburadul. Tanganku sedang tidak mendukung. Mereka ingin membeku! πŸ–‘πŸ–β„

Hehe … Judulnya terinspirasi dari film zombie asal Korea! Train to Busan. Eh, bukan berarti aku suka drama Korea, ya! Aku hanya suka dengan film zombie. Kebetulan aku menonton filmnya sampai habis sesaat sebelum menaiki kereta ke Malang. Karena itu, was-was kalau tiba-tiba ada zombie yang datang. πŸ˜…

Butuh waktu 15 jam untuk sampai ke Malang dari Stasiun Pasar Senen. Ada pemberhentian yang menarik perhatianku.

Stasiun Madiun – Stasiun Nganjuk

Kenapa tertarik di perjalanan dalam dua stasiun tersebut? Selama perjalanan, untuk menghilangkan bosan, aku hanya melihat pemandangan sepanjang jalan. Dalam pemandangan tersebut, aku menemukan kebun-kebun yang ‘jarang’ ada di Makassar. Seperti perkebunan tebu, jati, ubi, sayur, dan lain-lain. I was asking to my mom, “Tebu, kok, pendek? Itu apa (jati)? Itu jati yang masih kecil, ya (ubi)? Itu sayur apa (πŸ˜πŸ˜‘πŸ˜•)?”. Assyudhahlah

~~~~~β€’~~~~~

Kursiku berada di gerbong 7. Aku duduk berempat bersama adikku, ibuku, dan adik sepupuku. Kakak dan ayah ada dimana? Mereka ada di gerbong 3 dan gerbong 4. Jauh sangat!! Aku juga harus melewati ruang genset jika ingin bertemu mereka.

Aku bisa berkesimpulan, selama perjalanan, sebagian besar perjalanan dihiasi dengan warna hijau kesukaanku 🐒, eh, bukan yang itu! Yang ini, nih🌳🌴.

Aku jadi lebih tenang saat melihat pemandangan sepanjang jalan. Masih ada banyak lahan yang ditumbuhi hijau pepohonan. Dan tidak hanya soal kehijauannya. Para orangtua mengajak anak-anaknya untuk berkebun atau sekadar melihat orangtuanya bekerja. Dengan harapan kelak anak-anak merekalah yang akan menjaga lahan-lahan yang mereka jaga sekarang.

Banyak kata ‘hijau’ yang kutuliskan, ya? Mungkin itu bisa menjadi apresiasiku terhadap kedinginannya. 15 jam sempat melewati waktu shubuh. Saat selesai ber-wudhu di WC, pintu masuk kereta yang terbuka menjadi pintu masuk udara dingin ke dalam kereta. Lah, kok, pintunya kebuka, sih? Keretanya, kan, lagi jalan. Ya, itulah pertanyaan yang masuk ke dalam kepalaku. Tidak heran, sih. Saat melihat keluar jendela, aku bisa melihat gunung yang diselimuti kabut tebal. Ditambah lagi ‘hijau’ yang sering kukatakan itu. Komplit sudahlah.

Hijau 🌿

Sebelum sampai di Stasiun Malang, aku sempat melihat Kampung Warna-warni. 

Setelah sekian banyak penumpang lainnya telah menjadi, eh, maksudku … telah keluar dari kereta, akhirnya aku sampai di stasiun yang kutuju.

Sampai jumpa!